Thursday, January 3, 2008

Adu Banteng dan Sejarah Christopher Columbus di Sevilla

Oleh: TARULI KARLINA
April di Sevilla. Kota ketiga terbesar di Spanyol ini diidentifikasikan dengan adu banteng ”corrida de toros”, banteng ”toros”, matador ”torero”, flamenco, tapas, dan kemegahan The Cathedral.

Kunjungan kali ini diawali dengan menyaksikan pertarungan antara manusia dan banteng dalam suatu arena. Satu hal yang saya pelajari dalam perjalanan kali ini: bersorak-sorai memberi semangat terhadap banteng yang sedang bertarung dianggap tidak sopan.

April adalah bulan yang meriah di Sevilla, ibu kota Provinsi Andalusia. Berlokasi di wilayah barat Spanyol, Sevilla terkenal dengan festival musim seminya yang disebut Feria de Abril yang dimeriahkan antara lain dengan adu banteng, flamenco, musik, dan makanan.

Adu banteng dimulai dengan berakhirnya Semana Santa (minggu suci Paskah). Dari minggu itu sampai Feria de Abril, adu banteng diadakan setiap hari. Setelah itu pertunjukan berkurang dan berakhir sebelum bulan Juli, perkecualian akhir September. Tiket berkisar antara 20-120 euro, tergantung lokasi tempat duduk, serta torero dan banteng yang dipertunjukkan, apakah corrida de toros (banteng besar dengan torero lebih berpengalaman) atau novillada (banteng kecil dengan torero kurang berpengalaman).

Penasaran ingin menyaksikan adu banteng, saya pun membeli tiket seharga 28 euro untuk menyaksikan pertunjukan pukul 06.00 di Plaza de Toros de la Real Maestranza. Bangunan terletak di Paseo de Cristóbal Colón dan di sisi Sungai Guadalquivir ini adalah salah satu dari dua sekolah adu banteng terkenal. Didirikan sekitar akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18, tempat ini direkomendasi sebagai tempat terkenal menyaksikan adu banteng.

Bangunan berstruktur Baroque façade itu dicat dengan warna dominan putih dan kuning, dan berbentuk gelanggang oval. Walaupun banyak kelompok pencinta binatang memprotes pertunjukan yang terlihat bengis ini, namun untuk kali ini saya tertarik untuk menyaksikannya.

Sekolah terkenal lainnya terletak di Ronda, kota kecil yang ditempuh 2,5 jam dengan bus dari Sevilla. Plaza de Toros di Ronda adalah arena tertua di Spanyol yang dibangun sekitar tahun 1785 dan di sinilah tempat kelahiran adu banteng modern.

Sebagai orang asing terhadap kultur adu banteng, saya mencari tahu informasi tentang pertandingan ini. Banyak yang memperkirakan asal mula kegiatan ini datang dari sejarah mengorbankan kerbau jantan pada zaman Yunani sampai Roma kuno dan peristiwa ini mengalami evolusi sewaktu mencapai Spanyol.

Acara adu banteng dimulai dengan paseillo, yaitu semua peserta yang mengikuti pertarungan memasuki gelanggang dan memperkenalkan diri ke ribuan penonton. Selanjutnya dua alguacilillos menunggang kuda ke pemimpin penyelenggara dan dengan simbolis menanyakan kunci untuk mengeluarkan banteng, ”Puerta de los toriles” (di belakang pintu itu terdapat banteng).

Pintu kandang dibukakan dan banteng pertama memasuki arena. Di sinilah pertarungan yang terdiri dari tiga bagian itu dimulai, masing-masing bagian dipisahkan bunyi terompet.

Pada setiap pertandingan ada tiga matador, masing-masing ditugaskan berhadapan dengan dua banteng, 10-15 menit setiap banteng. Bagian pertama, torero menggunakan capote, kain besar berwarna ungu atau kuning. Lalu masuklah dua picadores yang menunggang kuda dengan tombak di tangan yang dipakai menusuk bagian otot banteng untuk melemahkan kekuatan banteng tersebut.

Bagian kedua disebut suerte de banderillas, di mana tiga banderilleros ditantang menyangkutkan masing-masing sepasang banderillas, berbentuk seperti kayu, ke punggung banteng. Bagian terakhir disebut suerte suprema, di mana kita sering melihat torero dengan muleta, kain merahnya. Dia harus dapat menunjukkan faena, keterampilan menguasai banteng.

Di sinilah letak keindahan adu banteng, cara untuk membawa banteng dekat dengan tubuh torero dan akhirnya membunuh banteng dengan pedangnya. Lebih dekat banteng kepada sang torero, lebih besar bahaya, sehingga lebih banyak sorakan antusias yang dia terima dari penonton.

Kehebatan torero dilihat dari keterampilannya menguasai dan membunuh banteng dengan cepat. Torero yang melakukan tugasnya dengan baik dianugerahi kuping banteng, yang dapat dilemparkannya ke penonton.

Teriakan semangat dan tepukan tangan terdengar memeriahkan pertarungan. Banyak penonton datang dengan memakai baju pesta, rapi dan necis. Adu banteng adalah tradisi yang mereka rayakan.

Tarian ”flamenco”

Di Sevilla, flamenco menjadi bagian dari pertunjukan yang menarik untuk dilihat. Tapas adalah makanan pembuka khas Spanyol yang harus dicoba dan Sevilla dinyatakan sebagai tempat kelahiran tapas.

Sevilla juga tempat untuk mengenang kembali Christopher Columbus, pelaut asal Genoa, Italia. Kuburannya, Sepulcro de Cristóbol Colón, berada di dalam The Cathedral, gereja Gothic ketiga terbesar di dunia setelah St Peter di Roma dan St Paul di London.

Makam Columbus terdapat di dalam peti yang diangkat patung empat raja meskili daerah Castilla, León, Aragón, dan Navarra, melambangkan Kerajaan Spanyol yang berkuasa saat Columbus berangkat menjelajah Dunia Baru pada tanggal 3 Agustus 1492 dari pelabuhan Palos, dekat Sevilla.

Kendati ada keraguan mengenai letak makam sebenarnya, namun katedral ini memiliki monumen untuk mengenangnya.

Sejarah The Cathedral bermula pada tahun 1401 yang berdiri di atas Masjid Almohad. Minaretnya, La Giralda, menjadi salah satu penanda Sevilla. Kunjungi juga Istana Alcázar, yang dibangun pada tahun 903 dan arsitekturnya memperlihatkan pengaruh era Habsyi, era bangsa Moor.

Salah satu ruang Alcázar yang terkenal adalah Salón de los Embajadores dengan langit-langit berbentuk kubah terbuat dari emas. Di ruangan ini Raja Ferdinand dan Ratu Isabella menyambut kedatangan Columbus dari Amerika ratusan tahun yang lalu.

Taruli Karlina Alumnus University of Colorado, Boulder.

Sumber: Kompas, Minggu, 24 Juli 2005.

No comments: