Wednesday, March 26, 2008

"Nonton" Pesta Gantjeng di Pondok Rangon

Selepas waktu shalat Jumat, sekitar 10 mobil pikap berjalan beriringan melewati jalan-jalan sempit di wilayah Kelurahan Pondok Rangon, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, Jumat (28/12). Di atas bak salah satu pikap ada rombongan musik tanjidor. Satu mobil pikap lain tampak mengangkut rombongan kesenian gambang kromong yang juga meramaikan suasana.
Itulah arak-arakan yang merupakan bagian dari acara Hajat Bumi atau Selamatan Kampung, tradisi tahunan masyarakat asli Pondok Rangon, yang digelar tiap Bulan Haji atau Bulan Raya Agung. Acara Hajat Bumi sudah dimulai pada malam sebelumnya, diisi antara lain dengan acara doa dan makan bersama.
Pelaksanaan upacara atau ritual berpusat di tanah wakaf yang sudah turun-temurun dijadikan tanah kuburan warga setempat. Di sana pula terdapat dua makam yang dikeramatkan, yakni makam Mbah Uyut dan Mbah Kudung yang diyakini merupakan para leluhur warga Pondok Rangon.
"Saya tidak tahu sejak kapan acara Hajat Bumi diadakan," kata Boih Diman, Ketua Panitia Hajat Bumi 2007. "Saya dan para warga lain hanya melanjutkan tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun," lanjut Boih (65) yang juga Ketua RW 01 di Kelurahan Pondok Rangon.
Oleh masyarakat setempat, upacara Hajat Bumi atau selamatan kampung ini juga disebut dengan Pesta Gantjeng. Istilah ini berasal dari nama almarhum Ki Gantjeng, juru kunci pertama makam Embah Uyut dan Mbah Kudung. Kuburan di mana terdapat makam pasangan karuhun warga Pondok Rangon itu terletak tak jauh dari kantor Kelurahan Pondok Rangon dan juga disebut sebagai Makam Keramat Gantjeng.
"Jadi, istilah Pesta Gantjeng rupanya dikenal sejak Ki Gantjeng jadi juru kunci," kata Abdul Madjid (65), suami salah seorang cucu Ki Gantjeng. Ditambahkan, Ki Gantjeng sendiri wafat pada tahun 1967 dalam usia 113 tahun.
Upacara adat ini memang lebih pas disebut pesta. Kecuali musik tanjidor, Pesta Gantjeng yang berlangsung selama tiga hari juga meriah oleh berbagai pertunjukan lain, termasuk drama topeng Betawi dan wayang golek.
Sumber: Kompas, Sabtu, 05 Januari 2008.

Menikmati Gambang Kromong di Setu Babakan

Mulyawan Karim
"Hampir setiap minggu saya datang ke mari. Buat rekreasi, santai, sekalian nonton kesenian Betawi," kata Nurhayati, perempuan muda yang ditemui di Perkampungan Budaya Betawi di daerah Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, 15 Desember lalu.
Di panggung terbuka di tengah Perkampungan Budaya Betawi alias PBB itu, sekelompok pemusik gambang kromong sedang beraksi. Alunan suara rebab, gambang, dan kromong terdengar harmonis dipadu pukulan gendang, gong, dan kecrek yang ritmis. Nurhayati tampak menikmati pergelaran kelompok musik gambang kromong Pesisir Utara pimpinan Suryana itu.
"Kebudayaan Barat pengaruhnya sudah merajalela ke mana-mana, makanya seni-budaya Betawi harus tetap dijaga kelestariannya," kata Nurhayati yang mengaku Betawi asli.
Bersama suami dan tiga anaknya, Nurhayati kini tinggal di Depok. "Akan tetapi, aslinya saya orang Tanjung Barat, enggak jauh dari sini," katanya. Makanya, kunjungan ke PBB juga dipakai perempuan 35 tahun itu untuk bertemu dengan kerabat dan teman lama dari Tanjung Barat, juga di Kecamatan Jagakarsa, yang juga suka datang ke situ.
Sabtu siang itu, pengunjung PBB tak terlalu banyak. Kecuali Nurhayati yang datang naik sepeda motor bersama suami dan seorang keponakannya, Sabtu siang itu hanya ada belasan pengunjung lain yang setia menonton gambang kromong dan pergelaran kelompok musik gambus Ismail Marzuki yang tampil sebelumnya.
Puluhan pengunjung lain, termasuk beberapa pasangan muda-mudi, tampak lebih senang duduk-duduk di tepi Setu Babakan, tak jauh dari lokasi panggung terbuka, menikmati pemandangan ke arah danau, di mana seorang laki-laki tampak sedang menjala ikan dari atas rakit kayu.
PBB adalah kawasan di sekitar Setu Babakan dan Setu Mangga Bolong, Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, yang dikembangkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai kawasan konservasi kebudayaan Betawi.
"Tujuan dibangunnya PBB adalah untuk membina dan melindungi tata kehidupan khas Betawi serta mengembangkannya sesuai dengan akar budaya yang ada," kata Imron, Sekretaris Badan Pengelola PBB.

Kerak telor dan bir pletok
Suasana kampung Betawi memang langsung terasa begitu memasuki kawasan PBB seluas 289 hektar itu. Rumah-rumah di sepanjang Jalan Setu Babakan hampir semua memiliki wajah Betawi, dengan pagar teras dan lijstplank dari papan berukir. Ukiran serupa juga terlihat menghias gerbang PBB yang diberi nama Pintu Gerbang Bang Pitung.
Beberapa bangunan berarsitektur Betawi juga ada di sekitar panggung yang menghadap ke pelataran terbuka berlapis conblock. Di sepanjang sisi pelataran berbentuk melingkar itu terdapat beberapa kursi kebun, tempat para penonton bisa duduk santai di bawah keteduhan beberapa pohon besar yang biasa tumbuh di halaman rumah petani Betawi, seperti rambutan dan melinjo.
Kecuali bangunan kantor pengelola PBB, di sana juga ada mushala, ruang pameran (galeri), dan beberapa rumah penginapan (homestay) yang bisa disewa pengunjung yang ingin menginap. Semua bangunan dibangun secara bertahap oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sejak PBB dicanangkan pada 1996.
Namun, sebuah bangunan lain, yang berlokasi di ujung selatan kompleks, konon asli rumah penduduk setempat. Rumah itu adalah rumah Haji Samin Jebul alias Bang Anin. Menurut cerita, di teras rumah itu keluarga Bang Anin dulu pernah berjualan gado-gado.
Berbagai bentuk dan kelompok kesenian Betawi bergantian tampil di panggung PBB setiap hari Sabtu dan Minggu.
Tanggal 22 Desember lalu muncul kelompok gambang kromong Mustika Jaya dan pementasan kelompok sandiwara topeng Panker pimpinan Marhasan. Sementara itu, kesenian lenong dan gambang kromong dari sebuah grup lain tampil pada hari Minggu berikutnya. Semua pergelaran dilakukan siang hari, pukul 13.00 dan pukul 15.00.
"Pagi hari, juga setiap akhir pekan, di panggung ini bisa disaksikan juga acara latihan silat," ujar Zikri Amalia, staf bagian hubungan masyarakat PBB.
Di luar pagar teater terbuka, di tepi Setu Babakan, pengunjung PBB juga bisa menemukan berbagai macam makanan dan minuman jajanan khas Betawi, dari taoge goreng, laksa, sampai kerak telor dan bir pletok.
"Kalau hari Minggu di sini jauh lebih ramai. Banyak orang datang dari mana-mana, termasuk dari tempat-tempat jauh semacam Tangerang dan Bekasi," kata Udin, pedagang kerak telor yang mangkal di tepi setu atau danau kecil itu.
Menurut Udin, yang sudah tiga tahun mengadu nasib di PBB setiap akhir pekan, hari Sabtu juga biasanya ramai. "Tapi, karena sekarang kebetulan musim hujan, pengunjung jadi sedikit," ujarnya.

Sumber: Kompas, Sabtu, 08 Januari 2008.