
Hanya satu kapal kayu merapat di dermaga dari kayu ulin yang mulai lapuk. Gudang-gudang tua temboknya terkelupas. Gerimis menambah muram suasana Pelabuhan Martapura, sore itu. Pernah menjadi urat nadi Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pelabuhan itu kini menjadi kawasan yang ditinggalkan. Sepi dan mati.
Beratus tahun silam, kapal-kapal besar berlayar hingga ke Sungai Martapura. Dari sana, muatannya dibawa kelotok dan jukung menyusuri sungai-sungai yang berkelok hingga jauh ke jantung Pulau Borneo (Kalimantan). Dari pedalaman aneka barang, mulai dari lada hingga intan, diangkut hingga ke daratan Eropa.
Dari Pelabuhan Martapura, pada Juli 1957, Presiden Soekarno bersama sejumlah wartawan dari dalam dan luar negeri bertolak menuju jantung Borneo, yang hingga saat itu hanya bisa ditempuh melalui sungai. Soekarno dan rombongan menyusuri sungai hingga ke Pahandut (sekarang Palangkaraya).
Perjalanan Soekarno itu seperti mengingatkan pada ekspedisi para penjelajah Belanda yang menyusuri 49 sungai di Banjarmasin pada Mei-Juli 1847, seperti tertulis dalam Borneo Zuid Oostkust, yang menyebutkan tentang sungai-sungai yang berkelok-kelok dan tembus-menembus satu dengan lainnya. Ekspedisi itu mencatat tentang kehidupan orang Banjar yang tinggal di tepi sungai dan perahu yang menjadi satu-satunya sarana transportasi.
Hingga tahun 50-an, perahu masih menjadi alat transportasi utama di Kota Banjarmasin yang menghubungkan kampung-kampung dan pasar. Bahkan, sebagian pasar terletak di tengah sungai dengan pedagangnya menghanyut di atas perahu, seperti yang terlihat di pasar terapung Lok Baintan dan Muara Kuin.
Alat angkutan darat hampir tak dikenal waktu itu. Hampir semua daratan di Banjarmasin memang berupa rawa-rawa dan digenangi oleh air pasang-surut. Sebagian daratan di kawasan ini setengah meter berada di bawah permukaan air laut.
Kanal buatan
Pengajar ilmu sejarah yang juga Kepala Perpustakaan Pusat Universitas Lambungmangkurat (Unlam) Bambang Subiyakto mengatakan, selain sungai yang terbentuk secara alami, masyarakat Banjar sejak lama mengenal kanal buatan untuk kepentingan pengangkutan yang murah dan untuk irigasi pertanian lebak. Kemampuan membuat kanal itu diwariskan turun- temurun untuk menyikapi air pasang surut dari laut yang masuk hingga jauh ke pedalaman.
Dengan alat yang disebut sundak, papan tipis dari kayu ulin, orang Banjar membuat tiga macam kanal sesuai besaran dan fungsinya. Saluran utama disebut anjir, berfungsi untuk menghubungkan dua sungai besar. Kedalaman anjir rata-rata 1 meter hingga 2 meter dengan panjang saluran mencapai 100 sampai 2.000 meter.
Saluran sekunder disebut handil, yang dikelola secara kolektif dan lebih berguna untuk mengairi daerah pertanian. Saluran terakhir yang paling kecil (tersier) disebut saka, yang digunakan untuk mengairi lahan milik pribadi atau keluarga.
”Salah satu anjir yang terkenal dan masih berfungsi saat ini adalah Antasan Kuin, yang menghubungkan Sungai Martapura dan Barito. Banyak orang tak mengira bahwa ini adalah sungai alam dan bukannya kanal buatan melihat ukurannya yang sangat besar,” kata Bambang.
Dalam artikel yang ditulis oleh Prof Dr HJ Schophuys, di Kompas edisi 7 november 1969, disebutkan, masyarakat Banjar telah memiliki kemampuan membuat kanal-kanal untuk kepentingan pertanian pasang-surut secara tradisional. ”Mereka mampu membuat saluran air yang panjangnya puluhan kilometer hanya dengan tangan selama bertahun-tahun. Saya juga meniru cara itu 40 tahun lalu untuk membuka lahan di sana,” tulis Schophuys.
Schophuys adalah ahli hidrologi asal Belanda, yang pernah menjadi konsultan ahli Pemerintahan Hindia Belanda untuk pembukaan kawasan Kalimantan Selatan. Setelah Kemerdekaan RI, Schophuys masih terus berkiprah di Banjarmasin dan membantu pembuatan kanal-kanal baru. Dia kemudian menetap di Bogor, Jawa Barat.
Pada era penjajahan Belanda, kemampuan orang Banjar membuat kanal ini dimanfaatkan untuk membuat Anjir Serapat pada era pemerintahan W Broers, penguasa tertinggi Belanda di Kalimantan Selatan tahun 1880-1890. Anjir Serapat yang memiliki lebar 30 meter dan panjang 28 kilometer ini menghubungkan Sungai Barito dan Sungai Kapuas.
Hingga tahun 50-an, pembuatan anjir masih terus dilakukan. Bambang menyebutkan, pada tahun 1947 dan 1952, Schophuys yang didukung Gubernur Murjani membuat terusan di daerah Kabupaten Barito Kuala dengan panjang hingga 25 km. Pada tahun 1958, di era Gubernur Sjarkawi, dibangun Anjir Talaran (Marabahan) sepanjang 20 km. Anjir Marabahan ini menjadi kanal penting yang menghubungkan sistem pelayaran Kalimantan Selatan ke Kalimantan Tengah.
Namun, para penguasa berikutnya mulai melupakan sungai dan kanal. Pada tahun 70-an, jalan darat mulai dibangun dengan menimbun rawa-rawa. Walaupun hingga periode itu kanal-kanal masih berada di sisi kanan-kiri jalan, kualitas airnya mulai buruk karena aliran air tertutup. Kanal-kanal tercemar oleh sampah dan tanaman gulma. Pelayaran terganggu. Lambat laun kanal-kanal itu ditutup.
Orientasi pembangunan kota ke darat, sebagaimana kota-kota di Jawa, membuat pemangku Kota Banjarmasin terus membangun jalan darat dan meminggirkan kanal-kanal. Dan, mulai tahun 90-an terjadi penutupan besar-besaran sungai dan kanal di Kota Banjarmasin.
Budaya sungai
Gambaran tentang Kota Seribu Sungai, seperti ditunjukkan oleh ekspedisi Belanda pada abad ke-19, kini makin meredup saat ini. Di pusat Kota Banjarmasin, sebagian badan Sungai Martapura, ditutup dan dijadikan lahan parkir mobil pusat pertokoan Metro City.
Padahal, hilangnya sungai, menurut budayawan Banjar, M Suriyansyah, berarti hilangnya sendi budaya Banjar. ”Sungai adalah titik pusat budaya Banjar,” katanya.
Pengaruh sungai ini sangat jelas terlihat pada penggunaan bahasa. Misalnya, dalam berbahasa, orang banjar mengenal tiga klasifikasi yang didasarkan pada wilayah sungai, yaitu bahasa Banjar Kuala, Banjar Hulu, dan Banjar Batang Sungai. Kata air atau sungai juga digunakan untuk menunjuk orientasi tempat. Misalnya, kata ”dia sudah bebatang banyu di Jakarta”, artinya ”dia sudah menetap di Jakarta”.
Pengaruh lain terlihat pada toponimi kampung yang selalu diasosiasikan dengan nama sungai. Semua kampung lama di Banjar dinamakan berdasarkan nama sungainya, seperti di Jawa untuk menunjuk nama kompleks berdasarkan jalan atau gang, misalnya sungai Kampung Jingah, Kampung Sungai Bilu, Kampung Sungai Alalak, dan Kampung Saka (kanal tersier) Permai.
”Sekarang sebagian kampung yang menggunakan nama sungai di depannya tidak ada sungainya. Misalnya, Saka Permai yang tak ada lagi saka (kanal) di sana. Hilangnya sungai, bagi orang Banjar, berarti hilangnya asal-usul mereka sendiri,” kata Suriyansyah.
Dari sisi tata ruang, hilangnya kanal-kanal menyebabkan hancurnya sistem tata air di Banjarmasin saat ini. Banjir kerap kali menggenangi Banjarmasin, suatu hal yang tak pernah terjadi pada masa lalu. ”Dulu hujan berhari-hari Banjarmasin tak pernah banjir karena air langsung masuk ke kanal-kanal itu,” kata Suriyansyah.
Banjarmasin adalah contoh nyata kota di Indonesia yang mengingkari sejarah dan kondisi alamnya. Jika air pada awalnya menjadi urat hidup kota, kini air menjadi ancaman bagi kota ini. Kota seribu sungai itu tinggal kenangan yang muram....
Sumber: Kompas, Rabu, 24 Desember 2008
No comments:
Post a Comment