Tuesday, December 23, 2008

Seribu Sungai, Seribu Kenangan

Oleh: Ahmad Arif
Hanya satu kapal kayu merapat di dermaga dari kayu ulin yang mulai lapuk. Gudang-gudang tua temboknya terkelupas. Gerimis menambah muram suasana Pelabuhan Martapura, sore itu. Pernah menjadi urat nadi Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pelabuhan itu kini menjadi kawasan yang ditinggalkan. Sepi dan mati.

Beratus tahun silam, kapal-kapal besar berlayar hingga ke Sungai Martapura. Dari sana, muatannya dibawa kelotok dan jukung menyusuri sungai-sungai yang berkelok hingga jauh ke jantung Pulau Borneo (Kalimantan). Dari pedalaman aneka barang, mulai dari lada hingga intan, diangkut hingga ke daratan Eropa.


Dari Pelabuhan Martapura, pada Juli 1957, Presiden Soekarno bersama sejumlah wartawan dari dalam dan luar negeri bertolak menuju jantung Borneo, yang hingga saat itu hanya bisa ditempuh melalui sungai. Soekarno dan rombongan menyusuri sungai hingga ke Pahandut (sekarang Palangkaraya).



Perjalanan Soekarno itu seperti mengingatkan pada ekspedisi para penjelajah Belanda yang menyusuri 49 sungai di Banjarmasin pada Mei-Juli 1847, seperti tertulis dalam Borneo Zuid Oostkust, yang menyebutkan tentang sungai-sungai yang berkelok-kelok dan tembus-menembus satu dengan lainnya. Ekspedisi itu mencatat tentang kehidupan orang Banjar yang tinggal di tepi sungai dan perahu yang menjadi satu-satunya sarana transportasi.



Hingga tahun 50-an, perahu masih menjadi alat transportasi utama di Kota Banjarmasin yang menghubungkan kampung-kampung dan pasar. Bahkan, sebagian pasar terletak di tengah sungai dengan pedagangnya menghanyut di atas perahu, seperti yang terlihat di pasar terapung Lok Baintan dan Muara Kuin.



Alat angkutan darat hampir tak dikenal waktu itu. Hampir semua daratan di Banjarmasin memang berupa rawa-rawa dan digenangi oleh air pasang-surut. Sebagian daratan di kawasan ini setengah meter berada di bawah permukaan air laut.



Kanal buatan



Pengajar ilmu sejarah yang juga Kepala Perpustakaan Pusat Universitas Lambungmangkurat (Unlam) Bambang Subiyakto mengatakan, selain sungai yang terbentuk secara alami, masyarakat Banjar sejak lama mengenal kanal buatan untuk kepentingan pengangkutan yang murah dan untuk irigasi pertanian lebak. Kemampuan membuat kanal itu diwariskan turun- temurun untuk menyikapi air pasang surut dari laut yang masuk hingga jauh ke pedalaman.



Dengan alat yang disebut sundak, papan tipis dari kayu ulin, orang Banjar membuat tiga macam kanal sesuai besaran dan fungsinya. Saluran utama disebut anjir, berfungsi untuk menghubungkan dua sungai besar. Kedalaman anjir rata-rata 1 meter hingga 2 meter dengan panjang saluran mencapai 100 sampai 2.000 meter.



Saluran sekunder disebut handil, yang dikelola secara kolektif dan lebih berguna untuk mengairi daerah pertanian. Saluran terakhir yang paling kecil (tersier) disebut saka, yang digunakan untuk mengairi lahan milik pribadi atau keluarga.



”Salah satu anjir yang terkenal dan masih berfungsi saat ini adalah Antasan Kuin, yang menghubungkan Sungai Martapura dan Barito. Banyak orang tak mengira bahwa ini adalah sungai alam dan bukannya kanal buatan melihat ukurannya yang sangat besar,” kata Bambang.



Dalam artikel yang ditulis oleh Prof Dr HJ Schophuys, di Kompas edisi 7 november 1969, disebutkan, masyarakat Banjar telah memiliki kemampuan membuat kanal-kanal untuk kepentingan pertanian pasang-surut secara tradisional. ”Mereka mampu membuat saluran air yang panjangnya puluhan kilometer hanya dengan tangan selama bertahun-tahun. Saya juga meniru cara itu 40 tahun lalu untuk membuka lahan di sana,” tulis Schophuys.



Schophuys adalah ahli hidrologi asal Belanda, yang pernah menjadi konsultan ahli Pemerintahan Hindia Belanda untuk pembukaan kawasan Kalimantan Selatan. Setelah Kemerdekaan RI, Schophuys masih terus berkiprah di Banjarmasin dan membantu pembuatan kanal-kanal baru. Dia kemudian menetap di Bogor, Jawa Barat.



Pada era penjajahan Belanda, kemampuan orang Banjar membuat kanal ini dimanfaatkan untuk membuat Anjir Serapat pada era pemerintahan W Broers, penguasa tertinggi Belanda di Kalimantan Selatan tahun 1880-1890. Anjir Serapat yang memiliki lebar 30 meter dan panjang 28 kilometer ini menghubungkan Sungai Barito dan Sungai Kapuas.



Hingga tahun 50-an, pembuatan anjir masih terus dilakukan. Bambang menyebutkan, pada tahun 1947 dan 1952, Schophuys yang didukung Gubernur Murjani membuat terusan di daerah Kabupaten Barito Kuala dengan panjang hingga 25 km. Pada tahun 1958, di era Gubernur Sjarkawi, dibangun Anjir Talaran (Marabahan) sepanjang 20 km. Anjir Marabahan ini menjadi kanal penting yang menghubungkan sistem pelayaran Kalimantan Selatan ke Kalimantan Tengah.



Namun, para penguasa berikutnya mulai melupakan sungai dan kanal. Pada tahun 70-an, jalan darat mulai dibangun dengan menimbun rawa-rawa. Walaupun hingga periode itu kanal-kanal masih berada di sisi kanan-kiri jalan, kualitas airnya mulai buruk karena aliran air tertutup. Kanal-kanal tercemar oleh sampah dan tanaman gulma. Pelayaran terganggu. Lambat laun kanal-kanal itu ditutup.



Orientasi pembangunan kota ke darat, sebagaimana kota-kota di Jawa, membuat pemangku Kota Banjarmasin terus membangun jalan darat dan meminggirkan kanal-kanal. Dan, mulai tahun 90-an terjadi penutupan besar-besaran sungai dan kanal di Kota Banjarmasin.



Budaya sungai



Gambaran tentang Kota Seribu Sungai, seperti ditunjukkan oleh ekspedisi Belanda pada abad ke-19, kini makin meredup saat ini. Di pusat Kota Banjarmasin, sebagian badan Sungai Martapura, ditutup dan dijadikan lahan parkir mobil pusat pertokoan Metro City.



Padahal, hilangnya sungai, menurut budayawan Banjar, M Suriyansyah, berarti hilangnya sendi budaya Banjar. ”Sungai adalah titik pusat budaya Banjar,” katanya.



Pengaruh sungai ini sangat jelas terlihat pada penggunaan bahasa. Misalnya, dalam berbahasa, orang banjar mengenal tiga klasifikasi yang didasarkan pada wilayah sungai, yaitu bahasa Banjar Kuala, Banjar Hulu, dan Banjar Batang Sungai. Kata air atau sungai juga digunakan untuk menunjuk orientasi tempat. Misalnya, kata ”dia sudah bebatang banyu di Jakarta”, artinya ”dia sudah menetap di Jakarta”.



Pengaruh lain terlihat pada toponimi kampung yang selalu diasosiasikan dengan nama sungai. Semua kampung lama di Banjar dinamakan berdasarkan nama sungainya, seperti di Jawa untuk menunjuk nama kompleks berdasarkan jalan atau gang, misalnya sungai Kampung Jingah, Kampung Sungai Bilu, Kampung Sungai Alalak, dan Kampung Saka (kanal tersier) Permai.



”Sekarang sebagian kampung yang menggunakan nama sungai di depannya tidak ada sungainya. Misalnya, Saka Permai yang tak ada lagi saka (kanal) di sana. Hilangnya sungai, bagi orang Banjar, berarti hilangnya asal-usul mereka sendiri,” kata Suriyansyah.



Dari sisi tata ruang, hilangnya kanal-kanal menyebabkan hancurnya sistem tata air di Banjarmasin saat ini. Banjir kerap kali menggenangi Banjarmasin, suatu hal yang tak pernah terjadi pada masa lalu. ”Dulu hujan berhari-hari Banjarmasin tak pernah banjir karena air langsung masuk ke kanal-kanal itu,” kata Suriyansyah.



Banjarmasin adalah contoh nyata kota di Indonesia yang mengingkari sejarah dan kondisi alamnya. Jika air pada awalnya menjadi urat hidup kota, kini air menjadi ancaman bagi kota ini. Kota seribu sungai itu tinggal kenangan yang muram....



Sumber: Kompas, Rabu, 24 Desember 2008

Monday, November 3, 2008

Dubai Shopping Jewellery Store














555
TRADING ESTABLISHMENT


Po Box 40830

Riyadh

Saudi Arabia

Phone: +966(1)4456677, Fax: +966(1)4529271



A.J &
SONS JEWELLERY L.L.C.


Po Box 12928

Dubai

United Arab Emirates

Phone: +971(4)2295330, Fax: +971(4)2295331



A.R.Y. JEWELLERY
L.L.C. BRANCH


Po Box 1123

Dubai

United Arab Emirates

Phone: +971(4)2829832, Fax: +971(4)225095



AABHARAN JEWELLERY
L.L.C.


Po Box 6401

Dubai

United Arab Emirates
Phone: +971(4)3356667, Fax: +971(4)3360082



AABHARAN JEWELLERY
L.L.C.


Po Box 170

Abu Dhabi

United Arab Emirates

Phone: +971(2)6339433, Fax: +971(2)6343131



AABHARAN JEWELLERY
L.L.C. BRANCH


Po Box 13304

Dubai

United Arab Emirates

Phone: +971(4)2251880, Fax: +971(4)2262885



AARZEE JEWELLERY
FZCO


Po Box 57979

Dubai

United Arab Emirates

Phone: +971(4)2291091, Fax: +971(4)2269069



ABDUL AZIZ
A. AL-HAMMAD TRADING ESTABLISHMENT


Po Box 8616

Riy
adh

Saudi Arabia

Phone: +966(1)4119043, Fax: +966(1)4113698


AHALIA
JEWELLERS


Po Box 2419

Abu Dhabi

United Arab Emirates

Phone: +971(2)6311121, Fax: +971(2)6267828


AL AHRAM JEWELLERY

Po Box 71534

Abu Dhabi

United Arab Emirates

Phone: +971(2)6226363, Fax: +971(2)6226364



AL AIN JEWELLERY


Po Box 2625

Abu Dhabi

United Arab Emirates

Phone: +971(2)6224005, Fax: +971(2)6226040



AL AIN JEWELLERY

Po Box 2625

Abu Dhabi

United Arab Emirates

Phone: +971(2)6226647


AL AFIF GLASS FABRICATION
FACTORY


Po Box 5320

Jeddah

Saudi Arabia

Phone: +966(2)6719361



AL AHLI JEWELLERY L.L.C.

Po Box 53788

Dubai

United Arab Emirates

Phone: +971(4)2280505


AL ADAD READYMADE GARMENTS
TRADING ESTABLISHMENT


Po Box 2820

Dubai

United Arab Emirates

Phone: +971(4)2229962, Fax: +971(4)3598074


AL
ABYAD GOLDSMITH


Po Box 21564

Sharjah

United Arab Emirates

Phone: +971(6)5356044



AL ADAA COMPANY FOR
TRADING LIMITED


Po Box 5246

Riyadh

Saudi Arabia

Phone: +966(1)4011133, Fax: +966(1)4037849

AHMAD AHMAD AL MANSOUR
ESTABLISHMENT FOR TRADING


Po Box 9800

Riyadh

Saudi Arabia

Phone: +966(1)4645164, Fax: +966(1)4645146



AHMAD AL FARIS ESTABLISHMENT

Kuwait City

Kuwait

Phone: +965 2408596



AHMAD AL WAZZAN JEWELLERY

Manama

Bahrain

Phone: +973 17535231



AHMAD AL-TOWAIJRI TRADING
ESTABLISHMENT (BRANCH)


Po Box 53257

Riyadh

Saudi Arabia

Phone: +966(1)4794247, Fax: +966(1)4788036



AHMAD BEHZAD BUILDING
MATERIALS TRADING


Po Box 24241

Dubai

United Arab Emirates

Phone: +971(4)2273062, Fax: +971(4)2226205



AHMAD JAFFAR AL -SHABIB
JEWELLERS & GOLDSMITH


Manama

Bahrain

Phone: +973 17255471


AHMAD MOHAMMAD ABU
DA'SAK ESTABLISHMENT FOR TRADING


Po Box 8890

Riyadh

Saudi Arabia

Phone: +966(1)4594630, Fax: +966(1)4037380


ABDULLAH
S. AL-SAYED TRADING ESTABLISHMENT


Po Box 25033

Riyadh

Saudi Arabia

Phone: +966(1)4746666, Fax: +966(1)4774101



ABDULLAH SAUD ALJARISI
TRADING ESTABLISHMENT


Po Box 736

Riyadh

Saudi Arabia

Phone: +966(1)4460399, Fax: +966(1)4460399



ABDULMALIK ABDULLAH
AL-SHEIKH TRADING ESTABLISHMENT


Po Box 1000

Riyadh

Saudi Arabia

Phone: +966(1)4508560



ABDULMOHSIN M. AL-QAHTANI
TRADING ESTABLISHMENT


Po Box 5366

Riyadh

Saudi Arabia

Phone: +966(1)4251871



ABDULRAHMAN AHMAD BAKARMAN
TRADING ESTABLISHMENT


Po Box 19268

Riyadh

Saudi Arabia

Phone: +966(1)2331083



ABDULRAHMAN AL-SAQIR
ESTABLISHMENT FOR HONEY & PERFUMES


Po Box 230882

Riyadh

Saudi Arabia

Phone: +966(1)4654599, Fax: +966(1)2800314



ABDULRAHMAN SAEED AL-SAYED
TRADING ESTABLISHMENT


Po Box 57029

Riyadh

Saudi Arabia

Phone: +966(1)4769000, Fax: +966(1)4774110



ABDULWAHAB SAEED AL
SAYYAD TRADING ESTABLISHMENT


Po Box 26233

Riyadh

Saudi Arabia

Phone: +966(1)4774003, Fax: +966(1)4730255




Wednesday, August 27, 2008

Terpukau 1001 Keunikan Yaman

William Wongso
Tepat pada bulan Ramadhan, bulan September lalu, saya menginjakkan kaki di Negeri Republik Yaman. Negeri yang berada di Jazirah Arab di Asia Barat Daya ini ternyata memiliki keindahan yang belum terkontaminasi budaya Barat.
Selain itu, penduduk setempat juga sangat ramah. Beruntung, saya mendapat panduan sangat bersahabat dari Duta Besar Yaman untuk Indonesia, Abdulrahman Alhouti. Karena itu, mudah bagi saya mengeksplorasi segala keunikan Yaman dengan segala indra: mata, telinga, dan citarasa.
Yaman dengan jumlah penduduk 20 juta jiwa tidak seperti lazimnya negara-negara di Jazirah Arab yang kaya-raya karena minyak tetapi berpenduduk sedikit. Eksplorasi minyak bumi Yaman hanya 375.000 barrel per hari.
Tanahnya yang kering adalah penghasil buah anggur, kopi, delima, okra, dan beberapa sayuran lain.
Kualitas anggur Yaman sangat prima dan terkenal hingga ke mancanegara. Rasanya manis, kompleksitas citarasanya sulit dibandingkan dengan anggur-anggur impor yang biasa kita beli di Indonesia. Anggur yang melimpah ruah itu antara lain diolah menjadi kismis.
Beraneka jenis kismis dapat dijumpai di hampir setiap jengkal pasar di Yaman. Bahkan, boleh dibilang jumlah kismis yang dijajakan melebihi kurma. Kismis juga dibuat menjadi naqe’e al zabib, minuman dingin khas Yaman
Selain anggur, kopi qahwa juga merupakan komoditas unggulan Yaman. Uniknya, di sini terdapat produk sampingan, yaitu kulit kopi (qishr) yang disangrai hingga kering. Cara menyajikan adalah dengan diseduh air panas dan dihidangkan sebagai minuman hangat, dicampur jahe, cengkeh, dan kapulaga. Aroma kopi yang lembut berpadu dengan maraknya aroma jahe dan kapulaga. Suatu perpaduan yang sungguh nikmat dan beda. Bila diminum setelah makan masakan kambing, rasanya memperlancar pencernaan.
Hasil alami yang juga menjadi komoditas unggulan Yaman, yaitu madu alam. Konon madu terbaik berasal dari Hadramaut di Yaman Timur, harganya bisa mencapai ratusan dollar AS per kilogram! Nama kota ini sangat akrab karena di Tanah Air memang terdapat banyak orang keturunan Arab yang berasal dari Hadramaut.
Warisan dunia
Empat hari saya berada di ibu kota Yaman, Sanaa, kota tertua di Yaman yang terletak 3.000 meter di atas permukaan laut. Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pendidikan, Keilmuan, dan Budaya (UNESCO) menahbiskan Sanaa sebagai salah satu warisan budaya dunia (world heritage). Semula kota ini bernama Sam City, yang diambil dari nama tokoh yang berjasa menemukan dan membangunnya, Sam bin Nouh. Dalam bahasa Arab, nama itu berarti kesempurnaan.
Bangunan kuno dengan arsitektur unik yang didominasi warna kecoklatan dan ornamen putih mewarnai setiap sudut kota tua Sanaa. Sekilas terkesan monoton, tetapi setelah saya menelusuri lebih jauh, ternyata isi kota tua ini heboh dan menggairahkan, terutama pasar tradisionalnya (suoq). Betah rasanya berjam-jam menyusuri suoq dari siang hingga tengah malam.
Kekaguman yang sama juga saya rasakan saat mengunjungi tempat tujuan wisata paling favorit tidak jauh dari Sanaa, yaitu Rock Palace atau Dar Al-Hajar, istana yang dibangun di atas batu raksasa, terletak di Wadi Dahr, sekitar 14 kilometer dari barat laut Sanaa.
Istana megah dan unik ini dibangun atas perintah Imam Mansour Ali bin Mehdi Abbas pada abad ke-18.
Citarasa ringan
Saat Ramadhan, ritme kehidupan orang-orang Yaman baru mulai menggeliat sekitar pukul 14.00-15.00. Perdagangan pasar dibuka sejak sore hingga subuh (saat sahur). Hidangan yang dominan tersaji saat Ramadhan, antara lain masakan kambing, anak sapi, ayam, dan ikan panggang dalam oven tandoori.
Beruntung saya sempat mencicipi masakan tersebut saat berbuka puasa bersama Bapak Alhouti di resto favoritnya, Albeel Alshaibani. Tidak seperti lazimnya masakan Arab yang memiliki aroma dan citarasa rempah-rempah kuat, masakan khas Yaman justru lebih ringan citarasanya.
Sebagai padanan adalah cabai hijau yang telah dilumatkan dengan sari jeruk atau tomat yang juga dilumatkan, ditambah daun ketumbar serta campuran yoghurt sebagai sambal padanan.
Selain citarasanya yang cocok untuk lidah Indonesia, masakan khas Yaman juga lebih simpel, dan setiap daerah memiliki kekhasan masing-masing. Terutama masakan daging kambing muda yang lembut, disajikan di atas roti rashosh, yang bentuknya mirip roti naan India, tetapi lebih tipis dan lebar.
Cara makannya juga simpel, tanpa pisau dan garpu, cukup dicomot dengan tangan dan lauk sudah tertata di atas roti. Kesederhanaan, keunikan, dan keindahan Yaman yang membuat saya terpukau sekaligus bergidik ngeri setiap kali melihat belati jambiya serupa tanduk sapi yang terselip di daerah perut para pria Yaman.
Daun "qat"
Ada juga pemandangan yang unik saat setelah buka puasa. Pipi para pria (tua dan muda) tampak menggembung. Ternyata mereka sedang mengunyah daun qat atau khat (Catha edulis).
Tanaman qat tumbuh subur di dataran tinggi di Yaman, terutama di Wadi Dahr yang dikenal sebagai salah satu penghasil qat bermutu. Qat tahan kekeringan, sementara tanaman lain mungkin akan mati dalam kondisi ini.
Bagian paling diminati dengan citarasa baik adalah kuncupnya. Daun di bawahnya juga diminati karena harganya lebih murah. Setelah dipetik, qat harus disimpan dalam keadaan sejuk dan lembab, serta dikonsumsi tidak lebih dari 48 jam.
Diperkirakan 80 persen orang Yaman mengunyah qat tiap hari. Bila sopir bisa menghabiskan 5 dollar AS per hari, orang yang kaya menghabiskan 50 dollar AS. Diperkirakan setiap hari konsumsi qat mencapai sekitar 10 juta dollar AS.
Qat merupakan bagian dari ritual kehidupan masyarakat Yaman, dari kalangan atas hingga bawah. Sehari-hari, mereka menguyah qat dan hasil kunyahannya dikulum di salah satu pipi selama 2-5 jam. Mereka betah berjam-jam mengemut qat karena memiliki kandungan cathinone dan cathine yang memberi kesegaran dan efek rangsangan psikologis (psychostimultant) serupa dekstro-amfetamin yang menimbulkan energi dan rasa percaya diri.
Lucu juga melihat pipi orang-orang serempak menggembung sehingga hampir semua pedagang di sepertinya lagi terserang sakit gigi.
Sudah menjadi kebiasaan qat dipadankan dengan minuman cola, teh dengan susu atau daun mint. Saya sempat mencicipi beberapa jenis qat dengan dasar rasa yang sepet citarasanya seperti mangga, tetapi tidak beraroma mangga yang kita kenal…. Salam icip-icip.


William Wongso Ahli Kuliner

Sumber: Kompas, Minggu, 13 Januari 2008

Tuesday, July 15, 2008

Feasting on Bali, the Isle of The Gods

Like the food of other regions in Indonesia, Balinese food is rice as the central dish served with small portions of spicy, pungent vegetables, fish or meat and served almost always with sambal or chili paste. Bali is a few of the regions in Indonesia whose majority of its people are non Muslims, thus babi guling or roasted suckling pig is a specialty, as is bebek betutu, smoked stuffed duck wrapped in bamboo leaves.

In Jimbaran area, for instance, you can sample seafood dishes while sitting on the beach. Visit this place in the evening, the cool atmosphere and caressing breeze will make your dining experience remarkable.

You might want to try these:

KEBAB PALACE
Jl.Kartika Plaza Kuta Center, Kuta - Bali

AYAM BAKAR WONG SOLO
Jl.Raya Kuta no.87, Kuta - Bali
Jl. Merdeka no.18, Denpasar - Bali

RAJA'S BALINESE RESTAURANT
Nusa Dua Beach Hotel&Spa, Nusa Dua - Bali

ANIKA BALINESE COOKING
Jl.Elang No.3, Tuban, Kuta - Bali

DEPOT LA TANSA
Jl.Diponegoro No. 240 A, Sanglah, Denpasar - Bali

BATUR INDAH
Panelokan Kintamani, Bangli

BENGAWAN SOLO & BAR
Jalan Imam Bonjol 386, Denpasar

CAFE DAHANDE
Jalan Raya Seminyak, Kuta

PUALAN INT'L RESTAURANT
Jalan Sanur Beach 37, Sanur

ULAM
Jalan Pantai Mengiat, Nusa Dua

PLAZA BALI SEAFOOD
Jalan By Pass Ngurah Rai, Kuta

BUNGA KELAPA RESTAURANT
Alam Kul Kul
Jl.Pantai Kuta, Legian - Bali

SELERA KURING
Jl.Sunset Road (Dewi Sri) No.88, Seminyak, Kuta - Bali

For Moslem tourists, don't worry or afraid that you cannot get 'halal' food in Bali, because there are also many food stalls and food center that are safe to be consumed by Moslem believers. Start from green beans, ketupat tahu (rice boiled in a rhombus shaped packet plaited young coconut leaves mixed with tofu), bakso (meatball), satay, rujak (spicy mixed fruit), satay lilit (usually fish twisted on a stick), pepes (burned/steamed wrapped fish), ikan bakar (roasted fish), and many others. These kind of food are very suitable to be served with pelecing kangkung (a hot spicy leafy vegetable), and hot sambal. Various kinds of traditional snacks are also tempting to be tested such as bubuh injin, laklak, jaja uli and many others.

The safest tips to choose restaurant, certainly is asking the restaurant officers. Must be noticed for Moslem believers that most restaurant in the hotels serve international menu which are often unavoidable using pork.
Source: www. my-indonesia. com

Pandering for good food? Get yourself to Bandung

One Saturday afternoon young Yeannie Adisubrata, with her three girl friends, drove her car along Jl. Kolonel Masturi, leaving the busy city of Bandung and making for its hinterland, Lembang.

""I want to reach The Peak before sunset,"" said Yeannie, who works in for international bank. During the trip she turned down the air-conditioning and opened a window, letting the cool breeze crossing the Lembang mountain range whip past her face. ""The sunset at The Peak is one of the most beautiful things here,"" she said.

Located at the top of a hill in Parompong, along the route from Bandung to Lembang, The Peak is one of the newest dining areas in Bandung and underlines the cafemania phenomenon that hit the area last year.

The newest cafe is Kampung Daun, which opened two months ago. It is located on Jl. Sersan Bajuri. According to Dwi Budi, the cafe's customer service officer, a spa and another cafe offering Mediterranean food will soon open there.

""For now we have Warung Cadas Gantung which offers local food and Cabanasfor self-cooking dining,"" she explained.

Nested in a secluded lower area and surrounded by a high rocky wall, Warung Daun's interior is traditionally designed to match nature. Each table is placed under a bamboo structure whose roofs are made of sago palm leaf. International cuisine like shabu-shabu or deep-fried calamari is available, but Kampung Daun concentrates mostly on traditional food and beverages such as nasi goreng ikan asin (fried rice with salty fish), bakso campur (mixed meat ball soup), colenak (fried cassava with shreddedcoconut topping), bandrek (a hot ginger drink) and bajigur (coconut milk drink). The dishes cost about Rp 10,000 each. Traditional touches are also found in the bar's architecture, the waiter's uniforms and also the plates and mug which are made from coconut shells.

The Peak, however, is ensconced in a modern three-story building, with glass walls offering guests the best views of the surrounding mountain valley. The Peak also only serves European food and beverages. ""One of the most favorite items on the menu here is steak,"" said Sukirman, master chef at The Peak. Local steak is between Rp 32,000 and Rp 45,000 while imported meat is about Rp 50,000.

Employing 45 people, The Peak has a 160-seat capacity and is open everyday from 11 a.m. to 11 p.m., according to the cafe's operations manager, Agus Erick, who was recently busy preparing the cafe's first anniversary on Feb. 27.

In Parompong, there is another cafe called Rossan Resto. But cafes with valley views can also be found in the city of Bandung. In the Dago area, there are the Calista and Lalita Cafes, which face each other. Guests of the two cafes can enjoy the scenery of Bandung city from their seats. And the prices are reasonable: only an average of Rp 10,000 per dish from theirIndonesian and international menu -- from satay to lasagna. No wonder the Calista and Lalita Cafes are always crowded.

""Except for the narrow street leading to the cafes, everything is just great. The scenery, the food and also the prices,"" said SF Gunawan, an telecommunications engineer who often dines there.

Besides the new cafes, gourmet safaris in Bandung have long been popular.For example, there is an old jam factory that is still producing on Jl. Veteran 40. This industry is owned by 80-year-old Mrs. Budiana, who startedthe business in the 1920s.

""But the heyday of our business has gone due to the industrial development in Bandung's hinterland over the last two decades, as it made it difficult to find fresh fruit for our jam,"" explained Inge, Mrs. Budiana's niece.

Selling the jam for between Rp 12,000 and Rp 24,000 per kilogram, the factory is trying hard to maintain their mulberry, pineapple, chocolate, peanut and lobi-lobi (edible fruit) jams.

Across the street there is the famous Es Bungsu. Containing avocado, cincau jelly and mixed fruit, this very sweet iced beverage is a favorite choice for local tourists. This ""brand"" was even chosen as an item to be asked in a national quiz, Kata Berkait, on an RCTI program last year.

Warungs, operated by small-scale vendors, are quite modest with old wood benches for customers. But they are always packed with teenagers who buy their favorite beverage, iced fruit, which is available at Rp 3,000 per cup, usually after eating snacks at Batagor Kingsley next door. One of Bandung's most famous foods, batagor or baso tahu goreng (fried tofu and meat balls) is served with peanut sauce with chili. At Batagor Kingsley it costs Rp 5,000.

Those who want a more international taste should try the brownies at Bawean, at one of the oldest bakeries in Bandung. The bakery on Jl. Bawean,built in the 1946s and which used to be called the Sweetheart Bakery, is also famous for its rumtarts. Another popular brownie maker is Primarasa Bakery, which has outlets on Jl. Buahbatu and Jl. Kemuning. Primarasa has four choices of brownies, sold for between Rp 17,500 and Rp 23,000. Bandungalso has a yogurt center on Jl. Cisangkuy. Various yogurt flavors -- from grapes to lychees -- are offered with sausages and baked potatoes.

Day or night, Bandung is always ready to cater for any taste.
Source: The Jakarta Post, Sunday, 03/12/2008

A World Heritage Site

Borobudur temple is located in the district of Magelang, Central Java. It isconsidered one of the world’s wonders and has the largest and most complete ensemble of Buddhist relief in the world. UNESCO has listed the temple as World Heritage Site.

The village of Candirejo is located some 3 km from Borobudur Temple. A traditional Javanese village, Candirejo is being promoted for village tourism, portraying traditional Javanese culture and daily life through traditional houses, art performances, ceremonies, farming and local food.

How to Get There:
The temple of Borobudur and Candirejo Village can be reached from Yogyakarta by public buses that start from Umbulharjo Terminal or by taxisand rental cars. The distance is approximately 42 km from Yogyakarta.

The Best Season to Visit:
Almost anytime during the year, but preferably in the dry season(April to September).
Contact:
Koperasi Desa Wisata CandirejoJl. Raya Borobudur Sendangsono Km3Kabupaten Magelang 56553Telp./Fax. 0293 - 789675Ian : 08175414855

London: The living museum

By: Ying-lan Dann
Unfurling like a sequence of frames in an English television show, think The Vicar of Dibley, the views from our carriage on board the Stanstead Airport Express train into London's Liverpool Street Station seem oddly familiar.

Manors and churches composed picturesquely across the verdant landscape gradually form clusters that thicken until we reach the great brown-brick metropolis of London, about 45 minutes away.

Five years ago, British working visa in hand, I decided not to enter the United Kingdom, worried that the notorious costs of visiting the Monarch would mean reigning in a planned six month trip into two months. But recently, an opportunity to travel to the Western European nation of about 51 million people came to pass, and while the costs of living in the famed capital city, London can be high, there are also countless ways for guests with less to spend to experience the city and its many offerings.


Knotted with villages, historical sites, galleries and museums around the River Thames, London is said to have been founded more than 2,000 years ago by the Roman consul Brutus of Troy. Seeping through accretions of brick and mortar that appear to stretch as far as the low-rise horizon, the city's history is palpable.

Possessing only scant knowledge of the city, we decide that the safest spot to start our visit is on the London Underground, better known as "The Tube", itself an awe-inspiring structure and the world's oldest below ground public transportation system.

"The life of the city flows through these arteries, channels and conduits. Lifting the lid on this subterranean world can be a fascinating insight on what makes a city function", write Jackson Hunt, Andrew Scoones and Meghan Fernandes in their introduction to the 2008 exhibition catalogue Underground: London's Hidden Infrastructure.

Amid vast unseen networks of underground tributaries, catacombs and platform-cum-air-raid shelters among other things, The Tube brings us to London Bridge Station, one of the main terminals for out-of-town train services and the departure point for London's famed south-eastern district, Greenwich.

Twenty minutes along the line, the maritime town's Royal Observatory, the setting of the creation of Greenwich Mean Time (GMT) comes into view. Eyeballing skyward from atop the contours of Greenwich Park, the observatory, which was established to assist with Britain's seafaring activities in 1675, has been UNESCO-listed since 1997.
Seen to be of huge historic and scientific value, the monumental time machine -- where days officially begin and the Eas
tern and Western hemispheres are defined by the Prime Meridian -- also has great cultural value, perhaps even notoriety. "I hadn't realized it was such a colonizing machine," observes our companion, Bianca, referring to the tactical precision and scope of early maritime exploration.
Drawing swarms of onlookers, the English inventor John Harrison's four meticulously engineered and crafted prototype time-keepers tick fastidiously inside their glass cabinets. Winners of the British Government's coveted "Longitude Prize" of 1714, offered for the design of an effective Longitude measuring device, the legendary clocks seem to attest to the urgency of Britain's expansion at the time.
Also the distinguished subjects of American author Dava Sobel's 1995 novel Longitude: The Story of a Lone Genius Who Solved the Greatest Scientific Problem of His Time, it seems that despite their sometimes touchy subtext, the devices still inspire awe.
Night arrives, London's sky lit like an aurora by the city below, and we head back into The Tube. Emerging soon after, our arrival in Chinatown is signaled by the pulse-raising glow of up-sized fairy lights beaming one another through a chorus of walkers, rickshaws, bicycles and autos; cinema after cinema, entertainment complexes and eateries extending as far as the eye can see.

At once brilliant and a little disconcerting, Chinese imagery spills across several city streets rendering a picture of Hong Kong, the pawn in early Sino-British relations, which was handed back to China at the end of Britain's negotiated 99 year lease on July 1st, 1997. But just another part of the city's complexity, our attention is soon diverted by signage on a Chinese Medicine shop window reading "Massage here". After some well deserved respite from the all-go city, it's time to hit the hay.
Long before arriving, we trawled the internet for low-cost lodgings and among a list too long to count; we stumbled upon The Wardonia Hotel in King's Cross, which had garnered a bunch of great reviews and proved to be spotless, cheap and right in the center of town.
We are roused early the next day by the summoning hum of the city and make our way to Brick Lane, a long time migrant and low-income area of East London that has morphed in recent years to form the setting of innumerable art galleries, bars and cafes.

With its vibrant village atmosphere, it's a great place to grab a coffee before setting out for the day. A little more familiar with the city, following the previous day of Tube rides we continue on foot; our moseying tourist tempo revealing by contrast the quick pace of the city and some of the local rituals; resting on a deck chair in "Green Park", perhaps the most seductive.

Meandering on, we chance upon the River Thames and a bunch of the must-see sights that dot its Northern promenade. Perched, set-like over the waterway; Tower Bridge, seemingly named for its two grand structural towers joined by a delicate fretwork of suspension cable, is perhaps one of the city's most elegant structures. Built in 1894, the crossing is one of dozens bridging the city's North and South banks.

A little further along, we reach the unmistakable Tate Modern Art Gallery, an immense former Power Station, which was reopened as a gallery in 2000 after a refurbishment by the prolific Swiss architects Herzog & de Meuron. A city within a building, the gallery is laden with education programs, talks and symposia creating unconventionally upbeat qualities for a museum, boasting some of the 20th century's seminal ideas in art, architecture and performance.

Commissioning temporary art installations by some of the world's most adept contemporary artists, the sublime ground level "Turbine Hall" was recently the subject of Colombian artist Doris Salcedo's work. An insidiously snaking fault-line was cut into the gallery's concrete floor, revealing glimpses of the historic building's underbelly; just one more reminder of London's brimming history. Galleries, museums, historical sites and events abounding, London is a living Museum.

Source: The Jakarta Post, Sunday, 04/27/2008

Wednesday, March 26, 2008

"Nonton" Pesta Gantjeng di Pondok Rangon

Selepas waktu shalat Jumat, sekitar 10 mobil pikap berjalan beriringan melewati jalan-jalan sempit di wilayah Kelurahan Pondok Rangon, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, Jumat (28/12). Di atas bak salah satu pikap ada rombongan musik tanjidor. Satu mobil pikap lain tampak mengangkut rombongan kesenian gambang kromong yang juga meramaikan suasana.
Itulah arak-arakan yang merupakan bagian dari acara Hajat Bumi atau Selamatan Kampung, tradisi tahunan masyarakat asli Pondok Rangon, yang digelar tiap Bulan Haji atau Bulan Raya Agung. Acara Hajat Bumi sudah dimulai pada malam sebelumnya, diisi antara lain dengan acara doa dan makan bersama.
Pelaksanaan upacara atau ritual berpusat di tanah wakaf yang sudah turun-temurun dijadikan tanah kuburan warga setempat. Di sana pula terdapat dua makam yang dikeramatkan, yakni makam Mbah Uyut dan Mbah Kudung yang diyakini merupakan para leluhur warga Pondok Rangon.
"Saya tidak tahu sejak kapan acara Hajat Bumi diadakan," kata Boih Diman, Ketua Panitia Hajat Bumi 2007. "Saya dan para warga lain hanya melanjutkan tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun," lanjut Boih (65) yang juga Ketua RW 01 di Kelurahan Pondok Rangon.
Oleh masyarakat setempat, upacara Hajat Bumi atau selamatan kampung ini juga disebut dengan Pesta Gantjeng. Istilah ini berasal dari nama almarhum Ki Gantjeng, juru kunci pertama makam Embah Uyut dan Mbah Kudung. Kuburan di mana terdapat makam pasangan karuhun warga Pondok Rangon itu terletak tak jauh dari kantor Kelurahan Pondok Rangon dan juga disebut sebagai Makam Keramat Gantjeng.
"Jadi, istilah Pesta Gantjeng rupanya dikenal sejak Ki Gantjeng jadi juru kunci," kata Abdul Madjid (65), suami salah seorang cucu Ki Gantjeng. Ditambahkan, Ki Gantjeng sendiri wafat pada tahun 1967 dalam usia 113 tahun.
Upacara adat ini memang lebih pas disebut pesta. Kecuali musik tanjidor, Pesta Gantjeng yang berlangsung selama tiga hari juga meriah oleh berbagai pertunjukan lain, termasuk drama topeng Betawi dan wayang golek.
Sumber: Kompas, Sabtu, 05 Januari 2008.

Menikmati Gambang Kromong di Setu Babakan

Mulyawan Karim
"Hampir setiap minggu saya datang ke mari. Buat rekreasi, santai, sekalian nonton kesenian Betawi," kata Nurhayati, perempuan muda yang ditemui di Perkampungan Budaya Betawi di daerah Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, 15 Desember lalu.
Di panggung terbuka di tengah Perkampungan Budaya Betawi alias PBB itu, sekelompok pemusik gambang kromong sedang beraksi. Alunan suara rebab, gambang, dan kromong terdengar harmonis dipadu pukulan gendang, gong, dan kecrek yang ritmis. Nurhayati tampak menikmati pergelaran kelompok musik gambang kromong Pesisir Utara pimpinan Suryana itu.
"Kebudayaan Barat pengaruhnya sudah merajalela ke mana-mana, makanya seni-budaya Betawi harus tetap dijaga kelestariannya," kata Nurhayati yang mengaku Betawi asli.
Bersama suami dan tiga anaknya, Nurhayati kini tinggal di Depok. "Akan tetapi, aslinya saya orang Tanjung Barat, enggak jauh dari sini," katanya. Makanya, kunjungan ke PBB juga dipakai perempuan 35 tahun itu untuk bertemu dengan kerabat dan teman lama dari Tanjung Barat, juga di Kecamatan Jagakarsa, yang juga suka datang ke situ.
Sabtu siang itu, pengunjung PBB tak terlalu banyak. Kecuali Nurhayati yang datang naik sepeda motor bersama suami dan seorang keponakannya, Sabtu siang itu hanya ada belasan pengunjung lain yang setia menonton gambang kromong dan pergelaran kelompok musik gambus Ismail Marzuki yang tampil sebelumnya.
Puluhan pengunjung lain, termasuk beberapa pasangan muda-mudi, tampak lebih senang duduk-duduk di tepi Setu Babakan, tak jauh dari lokasi panggung terbuka, menikmati pemandangan ke arah danau, di mana seorang laki-laki tampak sedang menjala ikan dari atas rakit kayu.
PBB adalah kawasan di sekitar Setu Babakan dan Setu Mangga Bolong, Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, yang dikembangkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai kawasan konservasi kebudayaan Betawi.
"Tujuan dibangunnya PBB adalah untuk membina dan melindungi tata kehidupan khas Betawi serta mengembangkannya sesuai dengan akar budaya yang ada," kata Imron, Sekretaris Badan Pengelola PBB.

Kerak telor dan bir pletok
Suasana kampung Betawi memang langsung terasa begitu memasuki kawasan PBB seluas 289 hektar itu. Rumah-rumah di sepanjang Jalan Setu Babakan hampir semua memiliki wajah Betawi, dengan pagar teras dan lijstplank dari papan berukir. Ukiran serupa juga terlihat menghias gerbang PBB yang diberi nama Pintu Gerbang Bang Pitung.
Beberapa bangunan berarsitektur Betawi juga ada di sekitar panggung yang menghadap ke pelataran terbuka berlapis conblock. Di sepanjang sisi pelataran berbentuk melingkar itu terdapat beberapa kursi kebun, tempat para penonton bisa duduk santai di bawah keteduhan beberapa pohon besar yang biasa tumbuh di halaman rumah petani Betawi, seperti rambutan dan melinjo.
Kecuali bangunan kantor pengelola PBB, di sana juga ada mushala, ruang pameran (galeri), dan beberapa rumah penginapan (homestay) yang bisa disewa pengunjung yang ingin menginap. Semua bangunan dibangun secara bertahap oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sejak PBB dicanangkan pada 1996.
Namun, sebuah bangunan lain, yang berlokasi di ujung selatan kompleks, konon asli rumah penduduk setempat. Rumah itu adalah rumah Haji Samin Jebul alias Bang Anin. Menurut cerita, di teras rumah itu keluarga Bang Anin dulu pernah berjualan gado-gado.
Berbagai bentuk dan kelompok kesenian Betawi bergantian tampil di panggung PBB setiap hari Sabtu dan Minggu.
Tanggal 22 Desember lalu muncul kelompok gambang kromong Mustika Jaya dan pementasan kelompok sandiwara topeng Panker pimpinan Marhasan. Sementara itu, kesenian lenong dan gambang kromong dari sebuah grup lain tampil pada hari Minggu berikutnya. Semua pergelaran dilakukan siang hari, pukul 13.00 dan pukul 15.00.
"Pagi hari, juga setiap akhir pekan, di panggung ini bisa disaksikan juga acara latihan silat," ujar Zikri Amalia, staf bagian hubungan masyarakat PBB.
Di luar pagar teater terbuka, di tepi Setu Babakan, pengunjung PBB juga bisa menemukan berbagai macam makanan dan minuman jajanan khas Betawi, dari taoge goreng, laksa, sampai kerak telor dan bir pletok.
"Kalau hari Minggu di sini jauh lebih ramai. Banyak orang datang dari mana-mana, termasuk dari tempat-tempat jauh semacam Tangerang dan Bekasi," kata Udin, pedagang kerak telor yang mangkal di tepi setu atau danau kecil itu.
Menurut Udin, yang sudah tiga tahun mengadu nasib di PBB setiap akhir pekan, hari Sabtu juga biasanya ramai. "Tapi, karena sekarang kebetulan musim hujan, pengunjung jadi sedikit," ujarnya.

Sumber: Kompas, Sabtu, 08 Januari 2008.



Monday, January 14, 2008

Tana Toraja, South Sulawesi-Land of The Heavenly Kings











The road from Makassar or Ujung Pandand to Toraja runs along the coast for about 130 km's and then hits the mountains. After the entrance to Tana Toraja you enter a majestic landscape with giant gray, granites and stones and blue mountains at a distance after passing the market village of Mebali. They form a sharp contrast with the lively green of the fertile, rain-fed terraces and the rusty read of the tropical laterite soil. This is Tana Toraja, one of the most splendid areas in Indonesia.

Tana Toraja has a specific and unique funeral ceremony which is called Rambu Solo. In Tana Toraja, dead body is not buried, but it is put in Tongkonan for several times, even can be more than ten years until the family have enough money to held the ceremony. After ceremony, the dead body is brought to the cave or to the wall of the mountain. The skulls show us that the dead body is not buried but just put on stone or ground, or put in the hole.The funeral festival season begins when the last rice has been harvested, usually in late June or July, and lasts through to September.


Getting There












  • By Air
    Directly from Hasanuddin airport, Makassar or Ujung Pandang, proceed to TANA TORAJA through the airport of Rantetayo, near Makle, 24 km south of Rantepao and there is a bus service to town.






  • By Land
    Buses to Rantepao from Ujung Pandang leave daily from Ujung Pandang. The journey takes 8 hours and includes a meal stop. Tickets should be bought in town but coaches actually leave from Panaikan bus terminal, 20 minutes out of town by bemo. Coaches typically leave in the morning ( 7 am ), noon ( 1 pm ) and at night ( 7 pm).
    Several companies in Rantepao run buses back to Ujung Pandang with the departure time and prices. The number of buses each day depends on the number of passengers.



Where to Stay
Tourist who wants to stay in the heart of the city has many choices since there is lot of hotels available. Or if you had an adventurous soul, you can sleep in villages on the way.

Moving Around
Bemo is the best way to get to know the locals, besides chartered vehicles (minibuses and Jeeps) with or without driver. While you are in the village you can take a walk to move around.

Other Things to See or Do













  • Exploring the market; You should not to be missed going to the traditional market. Here you can get the top end of Torajan coffee beans (like Robusta and Arabica). And several local veggies, fruits [Tamarella or Terong Belanda and gold fish (ikan mas).








  • Visit Batu Tumonga Plateu; It means stone that facing to the sky. From here can be seen many volcanic stones comes up in between padi fields. And, several giant stones became cave graveyard. The views is pretty awesome. The huge of Tana Toraja [Toraja land] looks so lush and greenery. Like a patchwork in gradation hue of green color.








  • Palawa is an excellent village to visit a Tongkonan, or a burial place still swarming with celebrations and festivals.








  • Take a side trip from Rantepao to Kete, a traditional village with excellent handicraft shops. Behind the village on a hillside is a grave site with lifesize statues guarding over old coffins









Dining Guide
Most of the times, you can't eat at these locations; however more warung and restaurants appear along the road. You can also bring your own foods and drinks.

Souvenir Tips
There is a souvenirs shop where you can buy everything specific from Tana Toraja. There are clothes, bags, wallets and other handicrafts.

Travel Tips










  • Visitor are expected to adhere to local dress customs and to bring a token present, such as cigarettes or coffee whenever entered Tongkonan.






  • As roads are not always paved, it is necessary to use a jeep or walk, even when the weather is good (between May and October).






  • Beware with your head whenever going inside to Tongkonan, The Torajan traditional house.






  • Enrekang, Makale and Toraja Higland are surrounded by astonishing volcanic rocky cliffs. Do not miss it , just stop and take picture for awhile and you will not regret

Sunday, January 13, 2008

"Ratu" Opera Batak dari Tiga Dolok

Ngeri-ngeri sedap! Itulah ungkapan cerdas sarat makna dari Zulkaidah br Harahap (60), mantan maskot opera Batak pimpinan Tilhang Gultom pada 1960-an hingga awal 1970-an. Konteks ucapan Zulkaidah br Harahap, yang amat populer dengan panggilan boru Harahap itu, sebetulnya sederhana.

Thursday, January 3, 2008

Kebijakan Lingkungan Masyarakat Bali

TRI HITA KARANA
Oleh: Raka Santeri

Tetua di Bali menerjemahkan ajaran-ajaran Hindu yang tercantum dalam kitab suci Weda dan Upanisad dengan sederhana. Untuk mencapai kebahagiaan hidup, misalnya, mereka beranggapan tiga hal harus dipegang teguh.

Adu Banteng dan Sejarah Christopher Columbus di Sevilla

Oleh: TARULI KARLINA
April di Sevilla. Kota ketiga terbesar di Spanyol ini diidentifikasikan dengan adu banteng ”corrida de toros”, banteng ”toros”, matador ”torero”, flamenco, tapas, dan kemegahan The Cathedral.

Kunjungan kali ini diawali dengan menyaksikan pertarungan antara manusia dan banteng dalam suatu arena. Satu hal yang saya pelajari dalam perjalanan kali ini: bersorak-sorai memberi semangat terhadap banteng yang sedang bertarung dianggap tidak sopan.